Makalah Adab-Adab dalam Islam Menurut Al-Qur'an dan Hadist



PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang

Islam adalah agama yang mengatur semua sisi kehidupan, mulai dari perkara yang kecil hingga perkara yang besar di dalam segala urusannya agama dan dunianya. Singkatnya tidak ada satu hal pun, baik kecil maupun besar, melainkan telah dijelaskan oleh Islam. Rasulullah SAW telah menggoreskan buat kita melalui ucapan dan perbuatannya rambu-rambu adab yang seyogyanya ditempuh oleh setiap mu’min di dalam hidupnya. Rasulullah SAW telah menjelaskan, siapa saja yang menghendaki kebahagiaan, hendaklah ia menempuh jalan hidup Rasulullah SAW dan meneladani adabnya. Hingga orang-orang kafir pernah bertanya kapada Salman ;
“Nabi kalian benar-benar telah mengajarkan segala hal hingga masalah buang hajat?” Salman  menjawab, “Benar.” HR Muslim :262
Diantara perkara yang diatur di dalam syari‟at Islam adalah tentang masalah adab. Sangat banyak hadits-hadits yang menerangkan tentang masalah adab, yang menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan masalah tersebut. Karena demikian pentingnya masalah adab, sehingga seorang suami berkewajiban untuk mengajarkan kepada keluarganya adab dan ilmu agama. Allah q berfirman;
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api SAWeraka.” (Q.S At-Tahrim: 6)
Ali  ketika menafsirkan ayat ini, mengatakan;
 “Ajarkanlah adab kepada mereka dan ajarkanlah (ilmu agama) kepada mereka.”
 

PEMBAHASAN 

Allah SWT mengutus Nabinya dengan syariat yang sempurna, yang telah menjamin kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat kelak bagi orang yang berpegang teguh dengannya. Syariat yang beliau n bawa bersifat universal, di mana segala aspek kehidupan manusia telah diatur dalam Islam dengan begitu rapinya. Di antara yang terpenting yang dibawa oleh Islam adalah memperbaiki kondisi batin manusia dan membimbing mereka kepada keteguhan hati di atas agama, serta memunculkan kontrol keimanan yang mendorong kepada kebaikan dan mencegah dari kejahatan. Jelas bahwa perintah-perintah agama dilakukan bukan sekadar rutinitas yang hampa dari makna. Bahkan terkandung berbagai maksud dan tujuan. Di antaranya adalah membentuk kepribadian yang memiliki adab yang mulia dan budi pekerti yang luhur.

A.      Kedudukan Adab dalam Islam

Adab adalah menggunakan sesuatu yang terpuji berupa ucapan dan perbuatan atau yang terkenal dengan sebutan Al-Akhlaq Al-Karimah. Dalam Islam, masalah adab dan akhlak mendapat perhatian serius yang tidak didapatkan pada tatanan manapun. Hal ini dikarenakan syariat Islam adalah kumpulan dari aqidah, ibadah, akhlak, dan muamalah. Ini semua tidak bisa dipisah-pisahkan. Manakala seseorang mengesampingkan salah satu dari perkara tersebut, misalnya akhlak, maka akan terjadi ketimpangan dalam perkara dunia dan akhiratnya. Satu sama lainnya ada keterkaitan sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِفَلْيُحْسِنْ إِلَى جَارِهِ
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia berbuat baik terhadap tetangganya.” (HR. Muslim, Bab Al-Hatstsu’ala Ikramil Jaar wadh Dhaif)
Di sini terlihat jelas bagaimana kaitan antara akidah dan akhlak yang baik. Oleh karena itu, Nabi SAW menafikan keimanan orang yang tidak menjaga amanah dan janjinya.
لاَ إِيْمَانَ لِمَنْ لاَ أَمَانَةَ لَهُ، وَلاَ دِيْنَ لِمَنْ لاَ عَهْدَ لَهُ
“Tidak ada iman bagi orang yang tidak menjaga amanah dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menjaga janjinya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban. Dishahihkan oleh Al-Albani t dalam Shahih Al-Jami’ no. 7179)
Bahkan suatu ibadah tidak ada nilainya manakala adab dan akhlak tidak dijaga. Nabi SAW bersabda (yang artinya):
“Barangsiapa tidak meninggalkan ucapan dusta dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh dengan (amalan) meninggalkan makan dan minumnya (puasa, red.).” (HR. Al-Bukhari SAWo. 1903).
Allah SWT telah menjelaskan bahwa adab memiliki pengaruh yang besar untuk mendatangkan kecintaan dari manusia, sebagaimana firmannya:
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut, terhadap mereka. Seandainya kamu bersikap keras lagi berhati kasar tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (Ali ‘Imran: 159)
Asy-Syaikh As-Sa’di menerangkan: “Akhlak yang baik dari seorang pemuka (tokoh) agama menjadikan manusia tertarik masuk ke dalam agama Allah SWT dan menjadikan mereka senang dengan agamanya. Di samping itu, pelakunya akan mendapat pujian dan pahala yang khusus. (Sebaliknya) akhlak yang jelek dari seorang tokoh agama menyebabkan orang lari dari agama dan benci kepadanya, di samping bagi pelakunya mendapat celaan dan hukuman yang khusus. Inilah Rasulullah SAW, seorang yang ma’shum (terjaga dari kesalahan). Bebeda dengan kita yang masih memilki kekurangan dan tidak luput dari kesalahan, Allah SWT mengatakan kepadanya apa yang Allah SWT katakan (pada ayat ini). Bagaimana dengan selainnya? Bukankah hal yang paling harus dan perkara terpenting adalah seseorang meniru akhlaknya yang mulia, bergaul dengan manusia dengan apa yang Nabi SAW contohkan berupa sifat lemah lembut, akhlak yang baik dan menjadikan hati manusia suka? Ini dalam rangka melaksanakan perintah Allah SWT dan menarik para hamba ke dalam agamanya.”

B.       Pembagian Adab

Pembahasan adab sangat luas cakupannya. Tidak terbatas pada masalah adab terhadap manusia saja. Bahkan pembahasan adab mencakup:
1.          Adab terhadap Allah SWT.
Yakni dengan seseorang memercayai beritanya, menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya serta bersabar atas takdirnya. Di dalam dirinya tertanam sikap cinta, berharap, dan takut hanya kepadanya. Segala ucapan dan perbuatannya mencerminkan pengagungan dan penghormatan kepadanya. Namun adab terhadap Allah SWT tidak terealisasi dengan baik kecuali dengan mengenal namanama Allah SWT dan sifat-sifatnya yang mulia. Demikian pula dengan mengenal syariatnya, hal-hal yang dicintai Allah SWT dan yang dibencinya, serta (yang tak kalah penting) adanya kesiapan jiwa untuk menerima kebenaran secara total. Ini adalah pokok dari adab. Manakala hal ini tidak ada pada diri seseorang maka tidak ada kebaikan pada dirinya.
2.         Adab terhadap Rasulullah SAW.
Yaitu dengan berserah diri terhadap keputusannya, tunduk kepada perintahnya, dan memercayai beritanya tanpa mempertentangkannya dengan apapun, baik pendapat-pendapat manusia, keragu-raguan, kias (analogi) yang batil, atau dengan menyimpangkan ucapannya dari maksud yang sesungguhnya. Termasuk adab terhadap beliau n adalah tidak mendahului keputusannya dan tidak mengangkat suara di sisinya lebih dari suaranya. Allah SWT berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedang kamu tidak menyadari.” (Al-Hujurat: 2)
Jika mengangkat suara lebih dari suara Nabi SAW bisa menjadikan batal amal kebaikan seseorang, bagaimana kiranya orang yang menentang sabdanya dengan akal semata atau pendapat-pendapat manusia?!
3.         Adab terhadap orang lain.
Yaitu bermuamalah (bergaul) bersama manusia dengan perbedaan status mereka sesuai kedudukannya. Terhadap orangtua, ada adab yang khusus baginya. Bersama orang alim dan penguasa, ada adab yang patut untuk mereka. Dengan tamu, ada adab yang tidak sama dengan keluarga sendiri. Demikian seterusnya.
4.             Adab yang umum sesuai keadaan.
Misalnya adab ketika safar, bermajelis, makan dan minum. Walhasil, beradabnya seorang pertanda kebahagiaan dan kesuksesannya. Lihatlah, bagaimana seseorang dilepaskan dari marabahaya karena baik adabnya terhadap orangtua, setelah sebelumnya terkurung dalam goa yang tertutup pintunya oleh batu besar. (lihat Shahih Al-Bukhari SAWo. 5974)
Namun sebaliknya, seorang ahli ibadah dari bani Israil yang bernama Juraij tatkala kurang adabnya terhadap ibunya, dia mendapat doa kejelekan dari ibunya. Juraij mendapat musibah dengan dituduh berbuat zina sehingga dia ditangkap dan diarak dengan tangan terikat. Bahkan tempat ibadahnya pun dihancurkan. (lihat pembagian adab dan penjelasannya dalam kitab Madarijus Salikin karya Ibnul Qayyim t, 2/375-392 cet. Maktabah As-Sunnah)

C.      Adab di Mata Salaf

Salafush Shalih umat ini yaitu Rasulullah SAW, para sahabat, tabi’in, dan yang mengikuti mereka sangat memerhatikan permasalahan adab. Karena adab adalah bagian dari syariat yang dengannya terwujud kemaslahatan dunia dan akhirat. Orang yang mencermati kehidupan Nabi SAW dan para sahabatnya g akan mendapatkan para sosok yang sempurna akhlak dan adabnya. Sesungguhnya lembaran sejarah keemasan kita yang masih terlipat semestinya kita buka dan kita pahami untuk diambil petunjuk darinya. Umat Islam seyogianya bersyukur bahwa para pendahulu mereka telah melewati kehidupan dunia ini dengan menyuguhkan yang terbaik bagi umat manusia.
Orang-orang yang terbimbing dengan wahyu Ilahi tidaklah mengambil dari adab dan akhlak melainkan yang paling mulia. Sebagaimana mereka tidak mengambil dari aqidah dan ibadah kecuali yang terbersih. Inilah Rasulullah n, sosok teladan yang berbuat baik dan adil tidak hanya kepada para sahabatnya. Bahkan terhadap musuh sekalipun beliau tidak mengesampingkan adab. Adalah Nabi SAW ketika hendak berhijrah ke Madinah, beliau memerintahkan sahabat ‘Ali bin Abi Thalib untuk tidur di rumah beliau dan mengembalikan amanat/titipan orang-orang Quraisy. Nabi SAW tidaklah mengambil sedikitpun harta titipan orang-orang kafir tersebut, walaupun sekadar sebagai bekal untuk sampai di Madinah. Padahal beliau sangat membutuhkannya, apalagi merekalah yang menyebabkan beliau terusir dari Makkah. Maha Benar Allah ketika berfirman dengan memuji nabinya :
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Al-Qalam: 4)
Karena pentingnya permasalahan adab maka para ulama yang membukukan hadits-hadits Nabi SAW memuat dalam kitab-kitab mereka riwayat-riwayat yang berkaitan dengan adab dan akhlak. Al-Imam Al-Bukhari misalnya di dalam Shahihnya memuat lebih dari 250 hadits tentang adab. Bahkan beliau menulis kitab khusus tentang adab yang diberi judul Al-Adab Al-Mufrad, hanya saja kitab ini tidak disyaratkan semua haditsnya shahih, sehingga ada yang dhaif (lemah). Al-Imam Abu Dawud , murid Al-Bukhari , juga memuat sekitar 500 hadits tentang adab dalam Sunannya. Demikian pula Ibnu Hibban t memuat lebih dari 670 hadits adab dalam Shahihnya.
Kitab-kitab adab secara khusus sendiri banyak sekali. Kita dapatkan kitab Al-Adab Annabawi karya Al-Baihaqi t, Al-Adab Asy-Syar’iyyah karya Ibnu Muflih Al-Hanbali t, Makarimul Akhlaq karya Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t, Akhlaqul ‘Ulama karya Al-Ajurri t, Ash-Shamt karya Ibnu Abiddunya t, dan lain-lain. Ulama memiliki andil yang besar dalam menjaga hadits-hadits adab dan menyebarkannya. Di tengah-tengah keterpurukan moralitas umat, sudah semestinya kita kenalkan kepada mereka kitab-kitab tersebut. Semoga mereka mau kembali ke jalan yang benar dan krisis moral bisa dihindarkan.
Ciri dan Keistimewaan Adab Islami daripada Adab-adab selainnya
Adab-adab Islamiah memiliki keistimewaan besar di antaranya:
1. Bersifat menyeluruh, di mana syariat Islam telah mengatur segala sisi kehidupan muslimin dari yang terkecil hingga yang terbesar. Baik sebagai pribadi, di dalam keluarga, ataupun di tengah masyarakat. Sebagaimana kewajiban untuk berhias diri dengan adab Islam meliputi seluruh muslimin baik tua atau muda, laki-laki maupun perempuan.
2. Kokoh bersamaan dengan kokohnya nilainilai Islam.
Misalnya mengucapkan salam, berjabat tangan, jujur dan yang lainnya, termasuk adab-adab Islam yang tidak berubah dengan pergeseran waktu dan tempat.
3. Peduli terhadap orang lain. Adab-adab Islam mendidik seorang muslim untuk memiliki kepekaan dan perhatian terhadap masyarakat sekitarnya dan manusia secara umum. Di dalam pergaulan seseorang dilarang untuk bersikap egois dan acuh tak acuh. Nabi SAW bersabda:

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِي يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ

“Bukan seorang mukmin yang dia kenyang sementara tetangganya kelaparan.” (Shahih Al-Adab Al-Mufrad no. 82)
Tidak cukup seseorang hanya menahan dirinya dari mengganggu orang, sampai ia berbuat baik kepada orang lain. Bahkan berbuat baik kepada yang berbuat jelek kepada kita. Nabi SAW bersabda (yang artinya): “Sambunglah orang yang memutuskan (hubungan) denganmu, berbuat baiklah kepada orang yang berbuat jelek kepadamu, dan ucapkanlah yang haq (benar) walau mengenai dirimu.” (HR. Ibnu Annajjar, dan dishahihkan oleh Al-Albani t dalam Shahihul Jami’ no. 3769)
4. Adab-adab Islam dijalankan dengan sepenuh ketaatan. Seorang muslim berpegang dengannya semata-mata ingin mencari ridha Allah SWT dan dalam rangka menyambut perintahnya.
Bukan karena peraturan manusia atau undang-undang yang dibuat oleh mereka yang menyelisihi Al-Qur`an dan hadits. Allah SWT berfirman menjelaskan tentang orang-orang yang baik:
“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. ‘Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih’.” (Al-Insan: 8-9

PENUTUP

A.      KESIMPULAN

Dalam kehidupan kita tidak terlepas dari tata cara kita beradab kepada allah SWT, Rasullulah SAW, dan kepada sesama kita. Karena pentingnya permasalahan adab maka kita di tuntut untuk belajar adab karena lebih baik dari pada belajar ilmu. Untuk menjalani kehidupan yang baik kita harus mengikuti ajaran rasullulah SAW dengan mempelajari adab-adab yang diajarkannya seperti dikatakan bahwa akhlak rasul adalah Al-Qur’an

DAFTAR PUSTAKA

Aziz Abdul, Ensiklopedia adab islam menurut Al-Qur’an, jakarta: Pustaka imam Syafi’i, 2001
Mujib Abdul, Mudzakkir. Ilmu Pendidikan Islam. (Jakarta: Kencana Prenada Media group. 2008). Cet. Ke-2.
Husaini, Adian. Pendidikan Islam Membentuk Manusia Berkarakter & Beradab. Depok: Komunitas Nuun, 2011


Komentar

Postingan populer dari blog ini

ReVIEW aplikasi Film Convert

Berkah Bulan Ramadhan | Kpi C UIN RF bersama panti asuhan Amal Ma'ruf

Cara Mencangkok Tanaman